Saturday, October 26, 2013

Aku hanya ingin diam


Di saat ku punya beban, aku tak ingin berbicara sepatah katapun, aku hanya ingin diam.

Aku ingin sendiri pergi jauh dan menyepi, mencari ketenangan, yang mungkin bisa menjernihkan hati dan pikiranku.

Di saat aku merasa lelah, lelah yang sangat. Lelah dengan yang kujalani ini, yang sungguh2 melelahkan. Aku butuh udara lain , udara yang tak biasa aku hirup untuk melegakan ku
 agar aku  bersemangat menjalani hari-hariku.

Di saat aku tak dapat menahan beban ini, aku tak bisa mengaduh , hanya air mata yang menetes yang menenangkan ku

Sungguh aku terlalu mengasihani diriku, sehingga aku tak dapat melihat lagi segala kebaikan, anugrah, dan hidayah yang kuterima selama ini.

Aku berharap ketika kubangun pagi, aku mendapat suatu pencerahan bathin yang menghidupkan jiwaku yang lelah

Yaa Rabb…
Aku Hanya Ingin Diam…

Sedikit Mengumbar Kata…
Berusaha Memaknai Rasa…

Yang Kadang Ada Kadang Tiada…
Berharap Akan Jelas Pada Akhirnya…

Yaa Rabb…
Aku Hanya Ingin Hening…

Hening Tanpa Suara…
Mendengarkan Rasa Ini Bertasbih
 Agar Ku Tahu Kemana Muaranya

karena Saat ini  aku hanya ingin diam
Tak perlu bicara lagi,,,karena saat ini hanya ingin diam
Mari bicara hidup dan bagaimana menghidupkan hidup
Mari bicara hati dan memaknainya
Tanpa nada,,tanpa irama,,tanpa syair,tanpa apapun yang membuatku ingin bicara..
Diamlah mulutku,,diamlah hatiku,,,diamlah otakku..
Sejenak saja,,,,
Karena sejatinya aku tak bisa diam

Friday, October 18, 2013

manusia pintar

Manusia bodoh. Waw! Terlalu kasar. Hahaha, tidak, itu bukan julukan untuk orang lain, tapi adalah sebuah judul lagu dan itu sepertinya buat saya. Hahahaha… jedaaar…

Entah tiba-tiba nyanyi-nyanyi sendiri lagu dari Ada Band ini. Daaan, bila dirasakan, setiap liriknya nonjok banget (sebenernya udah sadar dari dulu ._.v). Wkwkwk, ngga sih, tentang masa lalu. Sudah sudah, saya sudah berdamai dengan masa lalu… hehehe…

Yap, ngrasa bodoh banget, bener kata Ada Band. Kenapa harus terpuruk jika hal yang bikin kita terpuruk itu telah bersenang riang gembira? Tak ada gunanya. Hanya menyiksa batin. Jika batin telah tersiksa, sebenarnya, tamatlah riwayat. Beruntung, setiap hembusan nafas yang keluar, selalu di dampingi oleh orang-orang yang luar biasa hingga tidak berlebihan, mereka saya sebut sebagai malaikat kiriman Allah.

Ups, okay, saya sudah berdamai dengan masa lalu. Saya tidak menyalahkan masa lalu saya. Bukankah masa lalu adalah guru terbaik? Bersyukur, hidup ini untuk saya. Cerita ini untuk saya. Garis ini untuk saya. Hingga menjadikan saya masih tetap berdiri kokoh, siap untuk cerita selanjutnya, tentunya dengan cintaNya.

Nih, saya kasih liriknya. Lagu dalam masa berat cerita cinta… :)
Dahulu terasa indah…
Tak ingin lupakan…
Bermesraan slalu jadi satu kenangan manis…
Tiada yang salah…
Hanya aku manusia bodoh…
Yang biarkan semua ini permainkanku berulang-ulang kali…
Mencoba bertahan sekuat hati…
Layaknya karang yang dihempas sang ombak…
jalani hidup dalam buai belaka…
Serahkan cinta tulus di dalam takdir…
Tak ayal tingkah lakumu buatku putus asa…
Kadang akal sehat ini tak cukup membendungnya…
Hanya kepedihan yang slalu datang menertawakanku…
Kau belahan jiwa tega menari indah di atas tangisanku…
Mencoba bertahan sekuat hati…
Layaknya karang yang dihempas sang ombak…
jalani hidup dalam buai belaka…
Serahkan cinta tulus di dalam takdir…
Tapi sampai kapan kah ku harus menanggungnya, kutukan cinta ini…
Semua kisah pasti ada akhir yang harus dilalui…
Begitu juga akhir kisah ini yakinku indaah…
Mencoba bertahan sekuat hati…
Layaknya karang yang dihempas sang ombak…
jalani hidup dalam buai belaka…
Serahkan cinta tulus di dalam takdir…
Tapi sampai kapan kah ku harus menanggungnya, kutukan cinta ini…
bersemayam dalam kalbuu…

tentang inbox q

hmm....di tanya2 lagi
di interogasi lagi
di ingat kan lagi
apa lagi????

jika q diam kan? apa kamu akan puas?
atau km akan terus menanyakan dan kemudian memberikan seluruh argumen mu dan kemudian mengingat kan tentang kehidupan mu yang kurang beruntung dari aq, dia atau mungkin mereka?
yang di perlakukan secara tdk adil dan kemudian ingin melampiaskan nya?

hmmm...itu tak akan ada habis nya sekalipun aq menjawab nya
tapi jika benar yg km katakan tadi, bukankah itu kalimat yang sangat menyakitkan?
hmmmm untuk q 

q rasa sudah banyak mata yang membaca dan kemudian bertanya2 tentang siapa kita yang berada di post ini
dan mungkin banyak yang menebak2 tentang ini, itu dan mungkin jg yg di sini maupun yang disana

tp jika km yg di post ini bisa membaca'y , aq rasa km akan kembali mengarang indah di inbox q hehehe
aq suka membaca nya kemudian mengingat nya dan jg membayangkan nya hingga keluar ide untuk menulis nya disini
iya di sini, di blog q





melepaskan balon :)



Ketika kamu ingin melepaskan sesuatu, visualisasikan gambaran ini: ikatlah sesuatu yang ingin kamu lepaskan itu pada sebuah balon gas, kemudian lepaskan balon gas itu, dan saksikan ketika ia naik semakin tinggi ke langit dan akhirnya hilang dari pandanganmu.
Saya lupa di mana pernah membacanya. Tetapi saya pernah mencoba hal ini beberapa kali. Tidak berhasil untuk semua hal, tetapi cukup berhasil untuk beberapa hal. Ada saat-saat ketika saya ‘melepaskan balon-balon’ itu ke udara (biasanya saya memvisualisasikan hal ini sebelum tidur di malam hari) menyaksikannya menghilang di langit, dan setelah itu perasaan saya menjadi lebih ringan. Seakan sebagian beban sudah terangkat dari pundak.
Melepaskan harapan adalah salah satunya. Berpegang pada harapan bisa jadi hal yang menyenangkan, sekaligus memberatkan. Ada kalanya kita melihat hal-hal yang belum tuntas, impian-impian yang belum sempat diwujudkan, keinginan-keinginan yang belum terpenuhi, semua yang kita harapkan akan terjadi, tetapi tidak—atau belum menjadi kenyataan. Terkadang ini menjadi beban tersendiri. Seakan kita punya setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Terkadang kita lupa bertanya: apakah kita perlu mempertahankan semua ini? Ataukah kita perlu melepaskan beberapa ke udara sehingga kita bisa melangkah dengan lebih ringan? Ini sama halnya dengan terus-menerus membeli baju-baju baru; sampai lemari pakaian kita penuh sesak, hanya karena kita tidak tega membuang baju-baju lama yang hampir tak pernah dipakai lagi. Sama halnya dengan keinginan. Harapan. Cinta. Angan-angan.
Sebelum daftarnya menjadi semakin panjang, mungkin ada baiknya kita menarik napas sejenak. Melihat dengan lebih jernih. Bayangkan bahwa dalam satu periode waktu, kita hanya bisa menyimpan 3 buah balon harapan di tangan. Apa saja yang akan kita genggam, dan balon-balon mana saja yang akan kita lepaskan?
Belakangan, saya merasa balon-balon saya mulai memenuhi ruang. Ia berceceran mulai dari kamar tidur, koper, kolong tempat tidur, meja kerja, jalan raya, sampai sudut hati. Jadi, nanti malam, sudah saatnya saya melepaskan beberapa ke udara dan menyaksikan mereka naik, naik, naik terus… sampai hilang dari pandangan.
We can’t have everything we want. Dan saya masih belajar pelan-pelan, untuk bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Sulit, memang. Dan mungkin masih akan selalu ada sedikit air mata yang tumpah. Tapi tak apa. Esok mungkin masih menawarkan kejutan-kejutan yang akan membuat saya tertawa bahagia.
Yang penting saya sudah menyediakan ruang. Ruang untuk balon-balon baru yang masih akan berdatangan dari waktu ke waktu

Wednesday, October 16, 2013

cry

I wanna cry a loud . And I did it today . 

People said that " when a girl cry , it means that she can't handle her feeling yet ." 
Well ... I started to this feeling again . Feels like my bastard-hearted awake . 

I cried , for unknown reason