Saturday, October 13, 2012

selamat


Ingatanku berkeliaran di hutan waktu, semoga tidak tersesat ke sungai air mata.

Ada yang tergenang di wajahku, ada yang terngiang di telingaku. Entah apa, entah bagaimana. Mungkin ini namanya mati rasa.

Kita tidak lagi berdansa. Di bawah matahari, hujan, atau senja. Kumatikan sejenak melodi, biar hening menghinggapi.

Bahagia itu kamu. Ikut berbahagia itu aku. Jelaga tawa terkumpul di mata. Keduanya tumpah melebur satu.

(di)selamat(kan) malam. Semoga mentari mengajakku kembali menari.


Wednesday, September 26, 2012

matematika cinta

surya menyapaku, bulan menemaniku
kita tak berada dlm satu langit
mereka mengirim mu dlm rindu
kau misteriku
nafas kedua q
bulir nadi q serta aq dlm ruang hdp mu
aq berdiri tak berjarak dlm tlp genggam pengganti peluk mu
kringgg.... nada tlp itu adalah nyanyian benda canggih terhebat
dn aura mu merambat mengitari ku
ini lah waktu q dn inilh wktu mu , q rekatkn telinga q
krn mu aq jd mengingat
jika aq memukul mu tuhan memukul q
dn aq teringat semoga hujan di tmpt mu bukan wanita
krn aq bs cemburu dy lbh dulu menyentuh tbhmu
aq mendengr suara nya, dan sngt menyakiti q
 aq terdiam
aq tersenyum dn berusaha ku sembunyikn darimu, seakn kau bs menembus ruang mlht q tp aq tau kau tau arti senyum itu
aq berbisik pd nurani q, kaulah benteng q, kau lh dinding hati q dn aq bergeser menatap langit dr jendela q, andaikan kt satu lngit di situ,
aq tak faham astronomi, tp gugusan bintang setuju membntuk rasi rindu dari langit q ke langit mu setuju di pisahkn oleh waktu
aq tak tahu menahu ttg matematika
tp setiap kali aq memikirkan mu
2 x 2 +1 hasilny sm dengan 5 huruf yaitu CINTA


Thursday, August 30, 2012

Cinta, kenapa tidak?




“Isn’t it lovely? wake up in the morning and then fall in love with the same person again and again in a rest of ur life?”

Ah saya kembali mellow malam hari, gara-gara membaca sebuah artikel, dimana Habibie bercerita tentang mendiang Istrinya yang bersamanya selama 48 tahun 10 hari. Bahkan dia mengingat semua detailnya. Ijinkan saya menulis sedikit, karena hal-hal yang bersangkutan dengan cinta itu selalu menarik untuk saya tulis sesuai persepsi saya.

Cinta itu perasaan yang tidak direncanakan, dia hadir dengan sendirinya. Karena yang merencanakan itu bukan kamu, tapi Yang Maha Merencanakan.

Konon katanya, cinta dengan tak mengetahui alasan kenapa kau bisa mencintainya itulah hakikat cinta tertinggi. Cinta tanpa sebab, begitu katanya.

Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.

Cinta tanpa pertanyaan, karena kau yakin, meyakini DIA sebagai jawaban atas semua pertanyaan, bahkan yang belum ditanyakan sekalipun.

Kata orang cinta itu buta, tapi kalo kau YAKIN dituntun/diarahkan oleh orang yang tepat kenapa tidak?

Kata orang cinta itu tuli, tapi kalau kau punya hati untuk berdetak seiringan bersama bahkan kau bisa mendengar dan merasakannya, kenapa tidak?

Cinta itu bisu, tapi ketika dalam hening pun kau bisa meluapkan semua rasa dan memahami yang ia rasa. Kenapa tidak?

Jadi cinta itu melumpuhkanmu kah? Hingga kau buta bisu tuli? Kalo aku bilang iya dan lalu KAU menjadi seluruh indraku, kenapa tidak?

Cinta itu harusnya murni, tanpa praduga, tanpa tanda tanya. Suci sekali ya. Ini cinta yang putih sekali. Entah siapa yg masih punya.

Cinta itu bertenaga robot. Dia akan menciptakan energi yang entah datang darimana bisa membuatmu cukup kuat.

Ketika nanti tiba saat yang sudah disiapkan untukmu datang. Mencintalah seperti kau tak pernah disakiti. Buatlah hatimu baru lagi.

Cintailah seseorang, yakinilah. Dan ia akan menjadi lilin abadi yang akan terus menyala dalam hidupmu.

Cinta itu abadi. Sayang waktu yang membatasinya…

jogjakarta dini hari dan air mata serta rasa kagum pada Habiebie dan pria-pria sepertinya

Thursday, August 9, 2012

Totally Physical Response (TPR) merupakan metode yang cocok untuk mata pelajaran bahasa inggris sekolah dasar


Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)


Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”. Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).


Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.

Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.


Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukanaksi.


Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.

Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.

Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
Presentasi dengan OHP atau LCD
Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.

Teori pembelajaran TPR.

Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.

Demikian tentang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.

Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.

Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dan lain-lain.
Presentasi dengan OHP atau LCD
Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.

Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.

Thursday, August 2, 2012

i just need u now

Saat kau berada jauh di balik cakrawala,
jarum jam berubah menjadi belati. 
Setiap detiknya menghunjam jantungku berkali kali. 
Mencoba mengeluarkan bayanganmu di dalamnya, 
menjadikanmu ada walau hanya di kepala. 
Lalu aku akan berbicara pada mu di tengah nafas beku yang melingkupi nadi, 
dan lalu kau menjelma menjadi air mata, menelusuri pipi.

Thursday, July 19, 2012

YOUR LIFE STYLE IS YOUR FUTURE


Today's a lot of young people living independently, and it's in because of many factors, ranging from as they have to learn in the city or for a job, but many young people still in the family environment as far apart or are reluctant to living independently. as his running times, the needs of young children is increasing, from food, hobbies and even pulses for mobile phones. from survey results that I did almost 32 people between the ages of 17-25, their monthly spending to things that are not useful.

The following is a question that I asked my 32 respondents :


1. Young people would rather spend their money for buy pulse the cell phone
2. Young people now prefer to spend money on dating
3. I think the monthly spending of young people in more cities
4. Sometimes, Young people spend his money monthly for their hobby
5. I believe there is still a young people who diligently saving money
6. Nowadays, many young people who can not manage their monthly finances
7. Young people prefer to shopping at the mall than at traditional markets
8. If it runs out of money monthly young people prefer to borrow a friend
9. For some young people living in the boarding house, saving is a choice
10. Out of money by mid-month for young people living in boarding house are common
11. I think young people should learn to manage their finances before they live independently


Explanation

Strongly Agree (SA)             : 60 %

Agree (A)                             : 20%

Disagree (D)                         : 15%

Strongly Disagree (SD          : 5%




I think the results are astounding observasy, due to the clay from these data that many young people who can not manage their finances well many of them prefer the lifestyle in the appeal to their needs.

If we see from the few facts that I asked for the question, young people prefer their lifestyle compared with their future, although in certain circumstances such as being away from their parents who require to live independently, they assume it's not a problem , because they think there is still a monthly allowance they receive from their parents.

There was a young people one of my observations, he said that being away from parents is the opportunity to live freely and to try what he did not know to know, he also said that if he runs out of money monthly just need to ask and do not need hard effort to work on first. If I look at what young people think it is very influential with his future. Such a lifestyle would not it resulted in her next bad thing, maybe some parents think this is a way to educate children to be independent, but without them knowing their beliefs misunderstood by the son.

My conclusion, it is good to give young people more in the moral sciences and responsibilities so that they can be wiser in managing their finances as well as could be responsible for their future, because of their lifestyle could be their future.

seputar akreditasi yang membuat mahasiswa dilema

menurut PP 19 Tahun 2005, adalah batas bahwa semua prodi harus terakreditasi mulai 16 Mei 2012. Kalau tidak maka tidak diperkenankan mengeluarkan ijazah
Larangan Mulai 16 Mei, Kampus Mulai Cemas
JAKARTA - Larangan untuk mengeluarkan ijazah bagi mahasiswa di prodi yang tidak terakreditasi, membuat sejumlah kampus cemas. Mereka semakin ketar-ketir karena aturan ini akan berlaku pertengahan Mei depan. Diantara suara kecemasan itu diutarakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi). Ketua Umum Aptisi Edy Suandi Hamid kemarin (3/4) mengatakan, memang benar ketentuan tersebut mulai dijalankan pertengahan bulan depan. Tepatnya per 16 Mei. Menurut Edy, bagi sejumlah kampus swasta tidak mudah mengejar target ini. "Soalnya butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan akreditasi," katanya. Untuk itu, dia meminta ada kelonggaran. Caranya, ijazah boleh keluar asalkan prodi sudah mengajukan permohonan akreditasi di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Rektor UII Jogjakarta itu juga mengatakan, kalaupun seluruh prodi saat ini mengajukan akreditasi, kapasitas BAN-PT juga tidak akan mampu memprosesnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Dia meminta, yang penting prodi sudah memasukkan permohonan akreditasi dan mengisi borang-borang sudah boleh meluluskan mahasiswanya. "Sambil menunggu akreditasi keluar," kata dia. Diperkirakan, masih banyak prodi-prodi di kampus swasta yang masih belum mendapatkan akreditasi. Khusus di kawasan DKI Jakarta, jumlah prodi yang belum terakreditasi mencapai separuh lebih. Edy meminta pemerintah harus bijak dalam menjalankan gerakan disiplin akreditasi ini. Dia khawatir, dengan aturan yang kaku ini maka semakin banyak PTS yang tidak mendaftarkan prodinya dalam proses akreditasi. Dengan hitung-hitungan sederhana, Edy berani memastikan seluruh prodi tidak akan tuntas proses akreditasnya pada pertengahan Mei depan. Itu artinya, bakal ada banyak mahasiswa yang tertunda kelulusannya karena menunggu proses akreditasi. Menurut Edy, pemerintah harusnya membenahi lebih dulu sistem akreditasi kampus. Diantaranya, tidak membebankan proses akreditasi hanya ke BAN-PT saja. Dengan memperbanyak akses akreditas, dia yakin pengajukan akreditas bisa berjalan lancar dan cepat. Dari beberapa pengalaman selama ini, Edy mengatakan sejatinya kampus-kampus sudah mempersiapkan dokumen-dokumen persyaratan akreditasi beberapa bulan sebelum pengajuan. Namun, waktu yang dibutuhkan BAN-PT untuk untuk menyelesaikan tugasnya sangat lama. "Biasanya sampai memakan waktu enam bulan baru keluar hasilnya," katanya.(wan/jpnn)
Berita terkait akreditasi :
1 ) 27% Program Studi PTS di DIY Terancam Tutup
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/446619/
Saturday, 26 November 2011

YOGYAKARTA – Sebanyak 27% program studi (prodi) perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY terancam tutup karena hingga akhir 2011 belum juga terakreditasi. Sesuai Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), semua prodi harus terakreditasi minimal C pada Mei 2012. Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) V DIY Kasiyarno mengatakan, data terakhir jumlah PTS yang masih aktif di DIY mencapai 112 PTS.Seluruh prodi yang ada di PTS ini mencapai 530 unit.Dari jumlah tersebut,baru 389 atau 73% prodi yang sudah terakreditasi. Sisanya, 141 atau 27% belum terakreditasi. Untuk mengantisipasi agar tidak ditutup,Aptisi segera melakukan komunikasi,pembinaan dan bimbingan terhadap prodi-prodi itu. “Banyaknya prodi PTS yang belum terakreditasi ini akan menjadi perhatian serius kami,” kata Kasiyarno, yang juga Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, kemarin. Menurut Kasiyarno, salah satu kendala belum semua prodi PTS terakreditasi adalah kurang cermatnya PTS mengumpulkan dokumentasi kegiatan di kampusnya, sehingga pemberkasan menjadi kurang lengkap. Padahal penerapan akreditasi semakin rumit dan detail. “Masalah ini yang menjadi tantangan bagi pengurus Aptisi periode ini,” ujar Ketua Aptisi DIY 2011–2015 ini.

…dst

2 ) 141 Program Studi PTS Yogyakarta Belum Diakreditasi
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/11/11/25/lv7ehw-141-program-studi-pts-yogyakarta-belum-diakreditasi

Jumat, 25 November 2011 13:39 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Hingga akhir tahun 2011 ini sedikitnya ada 141 program studi (Prodi) di perguruan tinggi swasta (PTS) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum terakreditasi. Padahal berdasarkan UU Sisdiknas, pada Mei 2012 mendatang seluruh prodi harus terakreditasi. “Kalau belum terakreditasi minimal C perguruan tinggi tidak boleh mengeluarkan ijazah,” terang Ketua assosiasi perguruan tinggi swasta (APTISI) Wilayah V Yogyakarta yang juga rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jumat (25/5).
Menurutnya berdasarkan data terakhir jumlah PTS yang masih aktif di DIY mencapai 112 PTS. Seluruh prodi yang ada di PTS ini mencapai 530 prodi. Namun dari jumlah tersebut hampir 30 persen belum terakreditasi. “Ini beban berat bagi kami ke depan,” terangnya. Kasiyarno secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Aptisi DIY periode 2011-2015 pada musyawarah wilayah yang digelar, Rabu lalu di Yogyakarta. Musyawarah wilayah sendiri diikuti pimpinan 85 PTS di DIY. Meski semua pimpinan 112 PTS tidak hadir namun anggota musyawarah telah memenuhi kuorum.

SUARA MAHASISWA ; Akreditasi dan Nasib Mahasiswa PTS


BERDASARKAN Permendiknas No 28 Tahun 2005, semua perguruan tinggi (PT) sudah terakreditasi pada tahun 2012. Jika tidak, sebuah PT bisa dicabut izin operasinya. Banyak perguruan tinggi swasta (PTS) yang merasa keberatan dengan kebijakan ini. Masa depan mahasiswa PTS juga sedang dipertaruhkan dengan dampak dari regulasi tersebut.

Akreditasi memang penting untuk mengukur kualitas pelayanan pendidikan sebuah PT. Akreditasi juga merupakan jembatan menuju kualitas manusia Indonesia yang unggul. Sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas diharapkan mampu mencetak lulusan yang bermutu.

Namun, menjadi sulit bagi PTS untuk mencapai standardisasi yang diharapkan. Berbeda dengan PTN yang memperoleh subsidi pemerintah, PTS sebagian besar hanya dihidupi oleh dana masyarakat. Dari keterbatasan dana itu posisi PTS seringkali berada dalam dilema.

Jika sebuah PTS ingin mampu sejajar kualitas pelayanannya dengan PTN, ia mesti menarik biaya pendidikan yang tinggi. Padahal, kebanyakan PTS, terutama yang berada di daerah, memiliki peserta didik dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Jika peraturan tersebut benar-benar diberlakukan, mahasiswa PTS lah yang paling tak diuntungkan.

Dengan berbagai kebijakan, PTN saat ini tak ramah lagi bagi masyarakat bawah. Masyarakat yang tetap ingin mengubah nasib lewat pendidikan akhirnya menambatkan pilihannya pada PTS yang terjangkau.

Jika tempat belajar mahasiswa tersebut kelak tak terakreditasi atau bahkan dihentikan operasinya, pupus sudah harapan mereka. Sulit bagi para lulusan PTS tersebut untuk mendapatkan akses ekonomi yang baik. Sebagian besar lembaga kini mensyaratkan akreditasi minimal B bagi pelamar kerja. Pemerintah, juga mematok akreditasi minimal B pada persyaratan menjadi PNS. Sedang untuk berwirausaha masyarakat bawah terkendala modal dan jaringan.

Dampak bagi mahasiswa PTS dan masyarakat yang patut dipertimbangkan se- belum menerapkan peraturan tersebut. Seharusnya ada persiapan lebih matang dari lembaga akreditasi, perguruan tinggi dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut harus memastikan pemberlakuan peraturan tersebut tak akan mengorbankan siapapun. Lembaga akreditasi harus memperhatikan kesenjangan yang ada antara PTS dan PTN. Indikator penilaian sebaiknya menyesuaikan dengan berbagai keterbatasan PTS.

Pemerintah menjadi pihak yang paling bertanggung jawab ihwal akreditasi dan dampaknya. Pemerintah harus mengalokasikan dana tunjangan untuk membantu PTS. Ini agar PTS tak hanya bergantung dana masyarakat, sehingga PTS mampu meningkatkan pelayanannya sesuai standar akreditasi. Harus diingat, lembaga pendidikan swasta telah mengabdi jauh sebelum lahirnya negara Indonesia.

Sunday, July 15, 2012

Terlalu Dini

Terlalu dini untuk sakit hati.
Ada cerita yang belum siap patah lagi.
Ada malam yang terus menolak sepi

Terlalu dini untuk tersesat lagi.
Ada langkah yang lelah mencari
Ada nafas yang terengah dan menggema di sanubari

Terlalu dini untuk kehilangan kamu.
Ada damba yang tak ingin lepas
Ada rindu yang tak ingin kandas

Ah tapi saat kamu pergi, aku juga diam.
Ada pinta yang tak menjadi kata menisankan diri.
Hanya harap, kamu berbalik dan kembali, dalam hati.
Diam memenjarakanku.
Ketakutan menyergap kepalaku.

Bagaimana cara bertemu kamu?
Harus berjalan atau berlari?
Aku takut kamu terlewat
dan aku mencarimu lagi…… sendiri.

You & Me


You and me
Two people who making memories
With no worries
You and me
Two shadow
Run together to find some rainbow
You and me
Two people who play hide and seek
To find you, i need heart technique
You and me
Two people who rebuild some dream
In the middle of reality
You and me
Two people who will killing time
With laugh and smile
Without any lie
You and me
We
Us
Eternally Happy

Friday, July 13, 2012

Sepertiga harap atas kamu



I watched you smile secretly …. in my head




Saya terbangun dari tidur,

seketika saya dikepung rasa bingung, entah kenapa.

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih beberapa derajat.

Malam tadi terasa begitu hening, saya bergeming.

Memikirkan lagi apa yang sedang berkecamuk di hati dan kepala.

Tentang saya, tentang rasa.




Seorang teman mengatakan ini sepertiga malam.

Lebih baik saya berkomunikasi pada Sang Pencipta yang penuh kuasa.

Segera saya ambil air suci, sudah lama rasanya saya tidak bersujud sebelum pagi.

Lalu saya kembali merenung.

Meminta petunjuk, padaNya yang sebenarnya selalu memberi tanda tanpa kita minta.

Saya jadi sadar, selama ini dia sudah memberi ‘tanda’ pada kita, namun kita…..atau katakanlah saya, yang tidak mengolahnya dengan baik.

Saya yang pura pura tidak melihat.

Saya yang berakting mengacuhkan.

Diberi pertanda berputar balik, saya malah lurus.

Karena dalam hati saya masih berpikir.

Yang benar emang lurus.

Namun ternyata yang ada, saya jadi tersesat, saya kembali dalam labirin kebingungan.




arght saya ....!




Tapi saya yakin, sampai di ujung jalan pun.

Tuhan akan selalu memberi tanda kepada kita.

Semoga saat pertanda itu datang, saya legowo menerimanya dan berputar arah dengan sukarela.

Saat ini, saya sedang berhenti dan mereka reka.

Begitu banyak rambu di jalan.

Bensin masih penuh.

Saya memilah milah mana pertanda Tuhan, dan mana rambu pengalaman.

Saya masih ingin mengalami, melewati setiap inci.

Biar saya tersesat, saya yakin Tuhan akan mengembalikan saya, atau…seseorang akan menyelamatkan saya jika saya begitu sangat bebal atau buta rambu.




Hati hati, hatiku. ....

Saat ini kau yang kubawa di bagasiku.

Aku mengarahkanmu ke jalan yang tepat.

Masa depanmu.

Semoga kau tak rusak di bagasi begitu sampai di tujuan.

Tapi aku yakin takkan begitu.

Hati…. kita akan melihat rambu BERHENTI DISINI.

Nanti. Tujuan tertepat di muka bumi.

Tuhan, jika saya masih bingung.

Tolong beri saya tanda seru.

Thursday, July 12, 2012

The Grammar Translation Method (GTM)



The Grammar Translation Method (GTM)




CHAPTER I


BACKGROUND





A. Introduction


GTM is not a new thing in language learning, which is only slightly different. The name that has been used by language teachers for a few years ago. In ancient times this method is called the "classical method" of the time used in the classical language learning, such as Latin and Greek. At the beginning of this century, this method is used to assist students in reading and understanding a foreign language literature. But it is also expected that it is in studying or understanding the grammar of the desired target language, students will become more familiar with the language rules in accordance with the source language and a deeper understanding of this will further help them in reading and writing according to the source language to be better.


Finally concluded that it is studying a foreign language will help the development of students in developing intellectual, it can be recognized that the students will never use the target language, but learning is very much needed mental




CHAPTER II


DISCUSSION





A. Definition


The grammar-translation method of foreign language teaching is one of the most traditional methods, dating back to the late nineteenth and early twentieth centuries. It was originally used to teach 'dead' languages (and literatures) such as Latin and Greek



B. Caracteristic


The grammar translation method has eihgt caracteristic


1. Classes are taught in the mother tongue, with little active use of the target language.


2. Much vocabulary is taught in the form of lists of isolated words.


3. Long elaborate explanations of the intricacies of grammar are given.


4. Grammar provides the rules for putting words together, and instruction often focuses on the form and inflection of words.


5. Reading of difficult classical texts is begun early.


6. Little attention is paid to the content of texts, which are treated as exercises in grammatical analysis.


7. Often the only drills are exercises in translating disconnected sentences from the target language into the mother tongue.


8. Little or no attention is given to pronunciation.



C. Techniques


The grammar translation method has nine Techniques :


1. Translation of a Literary Passage (Translating target language to native language)


2. Reading Comprehension Questions (Finding information in a passage, making inferences and relating to personal experience)


3. Antonyms/Synonyms (Finding antonyms and synonyms for words or sets of words).


4. Cognates (Learning spelling/sound patterns that correspond between L1 and the target language)


5. Deductive Application of Rule (Understanding grammar rules and their exceptions, then applying them to new examples)


6. Fill-in-the-blanks (Filling in gaps in sentences with new words or items of a particular grammar type).


7. Memorization (Memorizing vocabulary lists, grammatical rules and grammatical paradigms)


8. Use Words in Sentences (Students create sentences to illustrate they know the meaning and use of new words)


9. Composition (Students write about a topic using the target language).



D. Advantages


a. The phraseology of the target language is quickly explained. Translation is the easiest way of explaining meanings or words and phrases from one language into another. Any other method of explaining vocabulary items in the second language is found time consuming. A lot of time is wasted if the meanings of lexical items are explained through definitions and illustrations in the second language. Further, learners acquire some short of accuracy in understanding synonyms in the source language and the target language.


b. Teacher’s labour is saved. Since the textbooks are taught through the medium of the mother tongue, the teacher may ask comprehension questions on the text taught in the mother tongue. Pupils will not have much difficulty in responding to questions on the mother tongue. So, the teacher can easily assess whether the students have learnt what he has taught them. Communication between the teacher and the learners does not cause linguistic problems. Even teachers who are not fluent in English can teach English through this method. That is perhaps the reason why this method has been practiced so widely and has survived so long



E. Disadvantages


a. It is an unnatural method. The natural order of learning a language is listening, speaking, reading and writing. That is the way how the child learns his mother tongue in natural surroundings. But in the Grammar Translation Method the teaching of the second language starts with the teaching of reading. Thus, the learning process is reversed. This poses problems.


b. Speech is neglected. The Grammar Translation Method lays emphasis on reading and writing. It neglects speech. Thus, the students who are taught English through this method fail to express themselves adequately in spoken English. Even at the undergraduate stage they feel shy of communicating through English. It has been observed that in a class, which is taught English through this method, learners listen to the mother tongue more than that to the second/foreign language. Since language learning involves habit formation such students fail to acquire habit of speaking English. Thus, they have to pay a heavy price for being taught through this method.


c. Exact translation is not possible. Translation is, indeed, a difficult task and exact translation from one language to another is not always possible. A language is the result of various customs, traditions, and modes of behavior of a speech community and these traditions differ from community to community. There are several lexical items in one language, which have no synonyms/equivalents in another language. For instance, the meaning of the English word ‘table’ does not fit in such expression as the ‘table of contents’, ‘table of figures’, ‘multiplication table’, ‘time table’ and ‘table the resolution’, etc. English prepositions are also difficult to translate. Consider sentences such as ‘We see with our eyes’, ‘Bombay is far from Delhi’, ‘He died of cholera’, He succeeded through hard work’. In these sentences ‘with’, ‘from’, ‘of’, ‘through’ can be translated into the Hindi preposition ‘se’ and vice versa. Each language has its own structure, idiom and usage, which do not have their exact counterparts in another language. Thus, translation should be considered an index of one’s proficiency in a language.


d. It does not give pattern practice. A person can learn a language only when he internalizes its patterns to the extent that they form his habit. But the Grammar Translation Method does not provide any such practice to the learner of a language. It rather attempts to teach language through rules and not by use. Researchers in linguistics have proved that to speak any language, whether native or foreign entirely by rule is quite impossible. Language learning means acquiring certain skills, which can be learnt through practice and not by just memorizing rules. The persons who have learnt a foreign or second language through this method find it difficult to give up the habit of first thinking in their mother tongue and than translating their ideas into the second language. They, therefore, fail to get proficiency in the second language approximating that in the first language. The method, therefore, suffers from certain weaknesses for which there is no remedy


CHAPTER III


CONCLUSION



The Grammar Translation Method was developed for the study of “dead” languages and to facilitate access to those languages’ classical literature. That’s the way it should stay. English is certainly not a dead or dying language, so any teacher that takes “an approach for dead language study” into an English language classroom should perhaps think about taking up Math or Science instead. Rules, universals and memorized principles apply to those disciplines – pedagogy and communicative principles do not.


REFERENCES


1.Larsen-Freeman, Diane. (1986) Techniques and Principles of Language Teaching, Oxford University Press.

Billah,MD.M. “Teaching English through English Medium”. The New Nation.Online. 20 Nov 2005.


2. Brown, D.H. Teaching by Principles:An Interactive Approach to Language Pedagogy. Longman: New York,2001.


3. Dr. Shahidullah, M., Islam. J., Majid , I. A. N. and Haque,M.S. English For Today for Classes 11-12.Dhaka.NCTB, 2001.


4. Dr. Shahidullah,M.,Islam,J., Majid, I. A.N. and Haque,M.S. Teacher’s Guide for English For Today For Casses 11-12.Dhaka.ELTIP, 2001.


5. Larsen-Freeman,D. Techniques and Principles of Language Teaching. Oxford:Oxford University Press, 1981.

6. Shahzadi,N.,Rabbani,F.,Tasmin,S. English For today for Classes 9-10.Dhaka.NCTB, 2002.

Monday, July 9, 2012

tanda tanya

kadang, tanda tanya dari seberang situ membuat titik dua tutup kurung buat sini
Kadang, tanda seru berbaris dari situ dengan kapital membuat titik dua petik dan buka kurung. Sini terkurung dalam murung
Kadang, demi membuat titik dua tutup kurung untuk seberang situ, disini menabung ribuan tanda tanya
Kadang, ketiadaan tanda dari seberang situ, membuat titik titik di dalam sini, dan lalu turun titik dari mata, memberi tanda ke tanah
Beri aku tanda. Aku perlu tahu kamu ada.

Thursday, June 28, 2012

kau dan aku adalah satu cerita yang tak ingin habis ku baca!!

Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri di depan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya, hati mana saja yang sudah kau lewati untuk sampai disini
Karena dengan langkahmu. Aku terbangun, dari mati suri yang kunina bobokan sendiri
Kalau kamu datang, tolong jangan pergi. Aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang. Aku berani sumpah, aku tenang
 dan ketika itu tiba harapanku hanya.....................
Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu. Kita bersujud dalam sepenggal waktu, berulang kali.
Akan ada hari, dimana seluruh doa yang terucap dari bibirmu. Kuamini juga dalam hati, 1 shaf di belakangmu.
Akan ada hari kusiapkan sahurmu, dengan senang hati. Dan menanti berbuka sembari mengukir senja.
Akan ada hari, kaudengungkan adzan di balik daun telinga sosok yang mungil, yang mewarisi sebagian parasmu, dan sebagian tingkahku.
Akan ada hari, kita melihat nisan. Dan memesan sepetak lahan, berdampingan. Untuk nanti, ketika esok tak ada lagi.
Akan ada hari, entah kau, atau aku yang merana. Karena salah satu dari kita, akan pergi lebih dulu. Meninggalkan dunia, melepaskan fana

kuburan mimpi

Paling sedih itu ketika melewati pekuburan mimpi. Semua orang mengubur dalam harapan dan menisankannya tanpa nama.
Disana mimpi terperangkap dalam tanah. Tanpa kau sadar, senyummu tertinggal sedikit disana
Mimpimu mau dibawa kemana? pekuburan? atau kau gantung di awan?
Mimpi seharusnya bersayap. Ia terbang melintasi langitmu. Dan kamu mengikutinya, setapak demi setapak, dengan jejak.
Kalau mimpi tersesat, siapa yang akan menemukannya? Siapa yang akan mencarinya kalau bukan tekadmu sendiri?
Kulewati lagi pekuburan mimpi. Terdengar teriakan menyayat hati. Aku menutup mata dan berkata pada kepala. Aku tak mau mimpiku berakhir disana.

Wednesday, June 27, 2012

acak - acak

terkadang hujan turun hanya untuk mengantarkan wajahmu ke ingatan ku, dan aku menggambar rindu2 di langit kamar ku bentuknya persis seperti mata mu.
setiap yang berlalu berubah menjadi kupu2 terbang di ingatan ku,hinggap di setiap doa untuk mu.
aku bukan nya menunggu, aku hanya terlalu sibuk menyiapkan tempat untuk mu
sebening apapun aku adalah keras yang mudah pecah molekul rapuh berwajah padat pelan2 membungkus hatiku, ia terbuat dari kaca,
dan Malam masih terlalu pagi. Jangan tiup aku terlalu dini. Aku masih ingin melihat bayanganmu dalam cahaya yang kubuat sendiri. Biarlah kunikmati karena  aku tidak mau menjadi tangga, dipijak hanya agar kamu menjadi lebih tinggi dan lalu aku menghening pada ruang waktu. Tenggelam menyaksikanmu dari bawah sini.
 
arght...Sebentar lagi aku tenggelam dalam pejam dan akan kupetik bunga mimpi. 
Kurangkai dalam haru, kusiapkan untuk menyambutmu

pesan ku nanti jangan terlalu sebentar bersama ku , itu saja !!!

kalau

Kalau kamu ada di sini. Aku harap pintu itu menghilang, agar kau menetap dan tak kembali pulang.
Kalau kamu ada di sini. Aku harap hujan tak akan pernah berhenti, agar senyummu tetap bisa menyelimuti hati.
Kalau kamu ada di sini. Aku harap waktu berhenti, agar detik bersamamu terasa abadi.
Kalau kamu ada di sini. Berceritalah semaumu. Setiap pori dinding akan merekam. Gemanya akan terngiang, tertabung di ingatanku.
Kalau kamu ada di sini. Aku tak akan takut pada gelap lagi.
Kalau kamu ada di sini. Tempat ini akan menjadi lokasi ternyaman di dunia yang pernah dimiliki bumi.
Kini, kuharap segala kalau itu menghilang dan terlebur bersama sepi.
Kamu. Aku. Benar benar ada di sini.

Dear Future Me,


Hai. Kemarin kamu sedang bersedih, tapi seperti biasa, kamu bisa menyembunyikannya dengan tawa. Iya itu karena dia, salah satu pria yang pernah memasuki benakmu saat itu. Iya, laki-laki yang keluar masuk di kepala dan hatimu kan tidak banyak, hanya beberapa, pasti kauingat yang kumaksud siapa, dan lalu saat detik matamu terpaku pada barisan aksara ini, kau sembari tertawa akan melihat sosok pasangan yang membahagiakanmu, yang akan selalu menyayangimu, melindungimu, selamanya. Amin.
Kenapa ya aku … kita sering begini?
Kemarin aku pikir aku sudah berlari jauh meninggalkan sakit itu, tapi ternyata aku hanya seperti berlari di atas threadmill. Aku masih di posisi yang sama. Keingintahuan itu terkadang menyakitkan, keingintahuan akan orang yang tidak tahu ada kita yang mengawasinya dari kejauhan.
Pura pura lupa berkali-kali tidak membawaku pada amnesia.
Pura pura sudah sembuh tidak membawaku pada tidur yang nyenyak
Pura pura tidak menangis tidak membawaku pada senyum yang berkepanjangan.
Entah kenapa kutuliskan surat ini, mungkin sebagai pengingat, bahwa aku, kita, pernah mengalami hal yang berat sebelum bertemu orang yang meringankan segalanya dalam sisa perjalanan.
Katakan padanya, dapat salam dariku, kamu di masa lalu. Katakan, aku sungguh ingin memeluk dia sekarang, saat ini dan mendengarnya berkata “Ada aku, semua akan baik baik saja”. 
Aku tahu mungkin bukan sekarang saat yang tepat bertemu dia, dan aku akan sabar menunggu hingga detik itu tiba. Dia akan menjadi penampung semua peluk & tissue atas semua air mata, ya kan?
Salam dariku, untukmu, untuknya. Kalian pasti sedang dan akan terus berbahagia.