Thursday, August 30, 2012

Cinta, kenapa tidak?




“Isn’t it lovely? wake up in the morning and then fall in love with the same person again and again in a rest of ur life?”

Ah saya kembali mellow malam hari, gara-gara membaca sebuah artikel, dimana Habibie bercerita tentang mendiang Istrinya yang bersamanya selama 48 tahun 10 hari. Bahkan dia mengingat semua detailnya. Ijinkan saya menulis sedikit, karena hal-hal yang bersangkutan dengan cinta itu selalu menarik untuk saya tulis sesuai persepsi saya.

Cinta itu perasaan yang tidak direncanakan, dia hadir dengan sendirinya. Karena yang merencanakan itu bukan kamu, tapi Yang Maha Merencanakan.

Konon katanya, cinta dengan tak mengetahui alasan kenapa kau bisa mencintainya itulah hakikat cinta tertinggi. Cinta tanpa sebab, begitu katanya.

Cinta tanpa tanda tanya. Cinta tanpa kenapa begini. Cinta tanpa kenapa begitu.

Cinta tanpa pertanyaan, karena kau yakin, meyakini DIA sebagai jawaban atas semua pertanyaan, bahkan yang belum ditanyakan sekalipun.

Kata orang cinta itu buta, tapi kalo kau YAKIN dituntun/diarahkan oleh orang yang tepat kenapa tidak?

Kata orang cinta itu tuli, tapi kalau kau punya hati untuk berdetak seiringan bersama bahkan kau bisa mendengar dan merasakannya, kenapa tidak?

Cinta itu bisu, tapi ketika dalam hening pun kau bisa meluapkan semua rasa dan memahami yang ia rasa. Kenapa tidak?

Jadi cinta itu melumpuhkanmu kah? Hingga kau buta bisu tuli? Kalo aku bilang iya dan lalu KAU menjadi seluruh indraku, kenapa tidak?

Cinta itu harusnya murni, tanpa praduga, tanpa tanda tanya. Suci sekali ya. Ini cinta yang putih sekali. Entah siapa yg masih punya.

Cinta itu bertenaga robot. Dia akan menciptakan energi yang entah datang darimana bisa membuatmu cukup kuat.

Ketika nanti tiba saat yang sudah disiapkan untukmu datang. Mencintalah seperti kau tak pernah disakiti. Buatlah hatimu baru lagi.

Cintailah seseorang, yakinilah. Dan ia akan menjadi lilin abadi yang akan terus menyala dalam hidupmu.

Cinta itu abadi. Sayang waktu yang membatasinya…

jogjakarta dini hari dan air mata serta rasa kagum pada Habiebie dan pria-pria sepertinya

Thursday, August 9, 2012

Totally Physical Response (TPR) merupakan metode yang cocok untuk mata pelajaran bahasa inggris sekolah dasar


Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)


Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”. Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).


Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.

Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.


Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukanaksi.


Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.

Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.

Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
Presentasi dengan OHP atau LCD
Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.

Teori pembelajaran TPR.

Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.

Demikian tentang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.

Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.

Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dan lain-lain.
Presentasi dengan OHP atau LCD
Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.

Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.

Thursday, August 2, 2012

i just need u now

Saat kau berada jauh di balik cakrawala,
jarum jam berubah menjadi belati. 
Setiap detiknya menghunjam jantungku berkali kali. 
Mencoba mengeluarkan bayanganmu di dalamnya, 
menjadikanmu ada walau hanya di kepala. 
Lalu aku akan berbicara pada mu di tengah nafas beku yang melingkupi nadi, 
dan lalu kau menjelma menjadi air mata, menelusuri pipi.